REAKTUALISASI NILAI 4 PILAR PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER MULIA MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL
REAKTUALISASI NILAI EMPAT PILAR
PENDIDIKAN KARATER UNTUK MEMBENTUK KARAKTER MULIA MENGHADAPI PERSAINGAN GOLBAL
Abdul Majir
STKIP St. Paulus Ruteng, Jl end.Ahmad Yani, No. 10.
Ruteng –Flores 86508
e-mail: Abdulmajir@gmail.com
Abstrak:
Reaktualisasi Nilai Empat Pilar Pendidikan Karater Untuk Membentuk Karakter
Mulia Menghadapi Persaingan Global. Akhir-akhir ini Fenomena kebebasan yang
tak terkendali makin mewarnai dinarnika kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebebasan
berpikir dan bertindak serta pergaulan bebas seolah menjadi hal yang biasa.
Tidak terkecuali dari dari kota sampai pelosok desa. Lebih memprihatikan lagi
kekerasan, kebebasan bertindak sudah masuk dilembaga pendidikan yang nota bene
mahasiswa/peserta didik adalah generasi penerus bangsa. Akibatnya,
mahasiswa/siswa sebagai harapn bangsa dalam agen perubahan (agent of change) mulai
menghilang, kepedulian terhadap sesama latar belakang sosial budaya pun semakin
hilang. Nilai-nilai substantif dari karakter bangsa mulai hilang. Kalupun ada
hanya sebagai simbolnya tanpa makna. Tentu banyak faktor yang membuat
nilai-nilai karakter bangsa kehilangan
kekuatannya. Disisi lain bangsa Indonesia merindukan kemapanan karakter yang
luhur dalam kesinambungan pembangunan dari kota sampai ke desa. Atas dasar
kenyataan itu, maka perlu reaktualisasi nilai-nilai empat pilar pendidikan
karater. Penulis mencoba menjelaskan menawarkan beberapa solusi sebagai jawban
dari persoalan yang ada. Apa yang salah dengan pendidikan kita selama ini
sehingga masih terjadi penyimpangan karakter siswa?
.Kata Kunci: Reaktualisasi, Pendidikan, Karater dan Persaingan Global
PENDAHULUAN
Setiap kali saya datang di
kampus,biasanya sebelum dan sesudah perkuliahan selalu ada saja topik yang dibicarakan
sesama dosen. Terutama berkaitan berita di media TV tentang demo, perang suku,
teroris, kerusuhan antara warga dan perkelahian antara pelajar/mahasiswa.
Diskusi lepas ini menginpirasi saya untuk menulis artikel ini. Ada data yang
saya baca tentang kekerasan di dunia pendidikan, yaitu: tahun 2012, mahasiswa akademi maritime Jakarta tewas akibat
dianiaya oleh seniornya, tahun 2013 mahasiswa baru ITN Malang meninggal akibat
di siksa seniornya, tahun 2014 mahasiswa Praja IPDN Sulawesi Utara, meninggal akibat kegiatan resimen mahasiswa (menwa), tahun
2017 mahasiswa taruna akademi kepolisian meninggal setelah mengikuti apel malam
yang dilakukan oleh 12 orang seniornya (Media Indonesia, 20 Mei 2017). Bangsa
Indonesia saat ini tengah menghdapi banyak persoalan, salah satunya persoalan pendidikan
ditengah perkembangan penduduk Indonesia
dari pertumbuhan penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia
tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke
atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun
2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Oleh sebab itu tantangan besar yang
dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif
yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki
kompetensi dan keterampilan serta berkarakter mulia. Dalam menghadapi berbagai persoalan
tersebut, maka perlu reaktualisasi nilai 4 pilar pendidikan karakter yang di
salurkan melaui tripusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat). Tanpa
nilai 4 pilar pendidikan karakter tersebut mustahil suatu kelompok manusia
dapat hidup berkembang dengan cita-cita untuk maju, sejahtera, dan bahagia
menurut konsep pandangan hidupnya.
Dalam
tulisan ini, penulis akan memberikan penjelasan dan pembahasan mengenai empat
pilar pendidikan karater untuk membentuk karakter mulia siswa, yang di dalamnya akan dibahas secara
singkat tentang pendidikan dan pembentukan karakter dan hubungan antara
pendidikan dan pembentukan karakter. Karena pendidikan karakter merupakan hal
yang paling penting dan mendasar untuk membentuk suatu manusia yang ideal dan
cerdas menghadapi persaingan global. Urgensi empat pilar pendidikan karater
untuk membentuk karakter mulia siswa sebagai
wujud nyata tujuan pendidikan nasional. Jelas bahwa empat pilar pendidikan
karater untuk membentuk karakter mulia
siswa di setiap jenjang, harus diselenggarakan secara sistematis. Dalam
konteks keindonesiaan, penerapan empat pilar pendidikan karater untuk membentuk
karakter mulia siswa merupakan kebutuhan
yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Karena melihat fakta dilapangan banyaknya
terjadi penyimpangan karakter siswa baik dikalangan keluarga,sekolah maupun
dimasyarakat. Diharapkan melalui reaktualisasi nilai empat pilar
pendidikan karater dapat membentuk karakter mulia siswa seningga mapu menghadapi persaingan
global yang merupakan tujuan
pendidikan nasional serta menjadi manusia yang seutuhnya. Lalu yang menjadi
pertanyaan kita adalah apa yang salah dengan pendidikan kita selama ini
sehingga masih terjadi penyimpangan karakter siswa? Apa saja yang menjadi
sumber atau pilar pendidikan karakter yang dapat membentuk karakter mulia bagi
siswa? Bagaimana penyaluran nilai 4 pilar pendidikan karakter dalam membentuk
karakter siswa?
Konsep Dasar Pendidikan
Karakter
Sebelum
memahami lebih jauh mengenai empat pilar pendidikan karater untuk membentuk
karakter mulia siswa, maka terlebih
dahulu kita memahami konsep pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah
suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan baik terhadap diri sendiri, sesama,
lingkungan, kebangsaan maupun terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karakter harus
dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu
proses. Pendapat ini senada dengan Sudrajat (2010), pendidikan karakter adalah
suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri,
sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan berkarakter mulia.
Strategi-strategi
dalam pengembangan pendidikan karakter salah satunya adalah strategi pendidikan
karakter melalui multiple intelligence
(multiple talent approach). Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan seluruh
potensi siswa yang merupakan pengembangan potensi yang membangun self concept yang menunjang kesehatan
mental, yang dilaksanakan melalui keteladanan. Sedangangkan pengertian karakter,
menurut kamus besar Indonesia dan menurut kealian para ahli berbabagai macam,
diantaranya : 1) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter memiliki arti
“sifat-sifat kejiwaan atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang
lainnya”, 2) Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan,
hati, jiwa,kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat,
temperamen, watak”, 3) Menurut Ditjen Mandikdasmen-Kementrian Pendidikan
Nasional, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas
tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa
dan Negara, 4) W.B. Saunders, (1977: 126) menjelaskan
bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu,
sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu, 5) Gulo W, (1982: 29)
menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral,
misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat
yang relatif tetap, 6) Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter adalah
sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari
yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai
kepribadian, 7) Wyne mengungkapkan bahwa kata karakter berasal dari bahasa
Yunani “karasso” yang berarti “to mark” yaitu menandai atau mengukir, yang
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku, 8) Alwisol menjelaskanpengertian karaktersebagai penggambaran
tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara
eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena
pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai, 9) Lickona, karakter berkaitan
dengan konsep moral (moral knowing),
sikap moral (moral feeling) dan
perilaku moral (moral behavior).
Beberapa pengertian karakter yang di uraikan
di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter berwujud tingkah laku yang ditujukan
kelingkungan sosial, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu bagaimana
mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku,
sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek dikatakan
orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan
kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Semua penilaian tersebut tak
lepas dari cara pandang orang lain terhadap sikap-sikap yang ditunjukan oleh
diri orang yang bersangkutan.
Pendidikan Indonesia Selama Ini
Secara keseluruhan pelaksanaan kita selama masih dihadapkan
dengan berbagai tantangan.
terutama tantangan
internal yang terkait dengan faktor perkembangan
penduduk. Pertumbuhan
penduduk usia produktif
di tengah persaingan antar bangsa yang semakin kritis. Dilihat dari kesiapan
dunia pendidikan, sekolah belum dapat menghasilkan mutu lulusan yang dapat
bersaing kuat dalam dinamika perkembangan nasional, terlebih lagi persaingan
global. Persepsi masyarakat terhadap pendidikan selalu menitikberatkan
pada aspek kognitif,
Beban
belajar siswa terlalu berat, Kurang bermuatan karakter. Kondisi negatif yang berkembang pada ranah sosial,
meningkatnya perkelahian pelajar, meningkatnya penggunaan narkoba, meningkatnya prilaku yang
menyimpang, rendahnya toleransi dalam kehidupan social dan berkembangnya
sadisme. Siswa/mahasiswa Indonesia kalah bersaing dalam mengerjakan
soal sepeti yang digunakan oleh TIMSS dan PIRLS yang membagi
soal-soalnya menjadi empat katagori: Low mengukur kemampuan sampai level knowing, Intermediate mengukur
kemampuan sampai level applying, High
mengukur kemampuan sampai level reasoning, advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with incomplete information
(Panduan Pelaksanaan kurikurikulum, 2014: 11)
Pada tataran pendidik, pada tingkat satuan pendidikan masih
terkendala dengan kesenjangan antara fakta dengan realita pada berbagai
komponen yaitu: 1) Kompetensi guru,
belum semua guru dapat merumuskan indikator pencapaian kompetensi pada
kecakapan berpikir level tinggi, 2) Belum
semua guru mampu merumuskan RPP secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan siswa
belajar secara kreatif dan inovatif karena itu guru masih memenuhi kebutuhan
RPP dengan copy-paste, 3) Belum semua
guru dapat menerapkan strategi pembelajaran siswa aktif, kreatif, inovatif, dan
kompetitif,4) Belum semua guru terampil mengembangkan instrument penilaian yang
memenuhi kriteria standar level reasoning
dan mengukur kemampuan sampai level reasoning
with incomplete information,5) Kedalaman, keluasan materi pelajaran
meliputi tiga dimensi yang digambarkan setiap level memiliki jalur yang
berbeda.

Pada
gambar di atas, terlihat bahwa pengembangan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan melalui jalur yang berbeda. Itu berarti bahwa siswa yang telah
berkembang pengetahuaannya belum tentu berkembang sejalan dengan ranah lainya.
Oleh karena itu, tiap memerlukan strategi pengembangan yang berbeda dari yang
lainnya. Pengembangan sikap
mengacu pada teori Krathwhol yang meliputi tahap menerima,
menjalankan,
menghargai, menghayati,
dan mengamalkan. Pengembangan
keterampilan berpikir merujuk pada teori Dyers yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji,
menalar, dan mencipta. Pengembangan pengetahuan merujuk pada
teori Bloom yang menggambarkan tahapan kecakapan berpikir, meliputi tingkatan mengetahui, memahami, menerapkan,
menganalisis, dan mengevaluasi.
Penguasaan
pengetahuan siswa ditandai dengan penguasaan fakta, konsep, prosedur, dan
metakognitif. Keempat tingkat penguasaan tersebut terkait erat dengan pendekatan
saintifik. Penguasaan fakta terkait erat dengan pengenalan fenomena, penguasaan
konsep terkait pada penguasaan teori, penguasaan prosedur terkait erat dengan
penerapan teori dalam kegiatan praktis sehari-hari, dan penguasaan metakognitif
berkaitan dengan kemampuan belajar tentang bagaimana cara belajar atau berpikir
tentang cara berpikir
Elemen Perubahan
Pendidikan
nasional harus memiliki prinsip utama, yaitu Pendidikan ke arah terbentuknya
karakter siswa merupakan tanggungjawab semua guru. Oleh karena itu,
pembinaannya pun harus oleh guru. Dengan demikian, kurang tepat jika dikatakan
bahwa mendidik para siswa agar memiliki karakter bangsa hanya ditimpahkan pada
guru mata pelajaran tertentu, misalnya guru PKN atau guru pendidikan agama.
Walaupun dapat dipahami bahwa yang dominan untuk mengajarkan pendidikan
karakter bangsa adalah para guru yang relevan dengan pendidikan karakter
bangsa.Tanpa terkecuali, semua guru harus menjadikan dirinya sebagai sosok
teladan yang berwibawa bagi para siswanya.
Melihat
fenomena banyaknya ketimpangan karakter di dikalangan siswa Kementerian
Pendidikan Nasional mengembangkan grand
design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan
pendidikan. Grand design menjadi
rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian
pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks
totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan kedalam beberapa
faktor diantaranya: 1) Olah Hati (Spiritual
and emotional development); 2) Olah Pikir (intellectual development); 3.Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development)
dan 4) Olah Rasa dan Karsa (Affective and
Creativity development).
Grand design
pendidikan karakter untuk setiap jalur yang dimaksud disini adalah formal,
nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Dengan
rumusan ini, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian,
dengan begitu siswa akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terprofokasi
setiap kali menghadapi situasi baru, adanya otonomi siswa dalam menghayati dan
mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya.
Pilar
Pendidikan Karakter
Selama
ini pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah memaksimalkan kecakapan dan
kemampuan kognitif. Sebenarnya ada hal lain dari siswa itu yang tak kalah
penting dan tanpa kita sadari telah terabaikan. Yaitu menguatkan pemahaman
mereka (siswa) tentang pilar pendidikan karakter. Ibarat sebuah bangunan, tiang harus dipancang kuat karena tiang
merupakan penyangga. Apabila tiang tidak kuat dapat dipastikan bangunan itu
tidak lama roboh. Begitulah perumpaan siswa yang tidak memahami pilar-pilar
pendidikan karakter.
Ada
empat pilar pendidikan karakter,
yaitu: agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Keempat pilar
tersebut harus di ajar pada setiap jalur
pendidikan.
1. Agama,
ada sebuah kata bijak mengatakan “ ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu
adalah lumpuh”. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan
karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun
dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan
berjalan dengan lambat bahkan sering jatuh. Sebaliknya, Agama tanpa pengetahuan
kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan
dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya pendalaman/penguatan
nilai-nilai keagamaan bagi siswa serta
melibatkan seluruh stakeholders. Penguatan/pendalaman nilai keagamaan merupakan
pilar pertama dalam membentuk karakter mulia bagi siswa.
2. Penguatan/pendalaman
nilai pendidikan sosial budaya. seperti toleransi, kebersamaan, kegotong royongan,
saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Nilai sosial budaya akan
melahirkan pribadi yang unggul. Berdasarkan penelitian di Harvard University
Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan
oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang
lain (soft skill). Penelitian ini
mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill
ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.
3. Penguatan
Nilai Pancasila. Negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas
prinsip-prinsip kehidupan Kebangsaan dan kenegaraan. Pancasila terdapat pada
Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat
dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi
nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan,
budaya, dan seni. Pancasila harus menjadi petunjuk hidup setiap siswa menuju daya saing bangsa dan menjadi ‘koridor’ kehidupan kebangsaan dan
kenegaraan; baik dalam konteks internal maupun eksternak
4. Penguatan
Tujuan Pendidikan nasional, yaitu: a) Trust worthiness (Kepercayaan)Jujur,
jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal melakukan apa yang anda
katakan anda akan melakukannya, b) Respect (Respek) Bersikap toleran
terhadap perbedaan, c) Responsibility (Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah
sebelum bertindak, mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan
sendiri, d) Fairness (Keadilan) Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan
berbagi, berpikiran terbuka, e) Caring (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih sayang
Berpijak
pada empat pilar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam
pola pendidikan yang diberikan pada siswa. Pembaharuan tata kehidupan bersama
yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain
adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual individu atas natural
sosial yang diterimanya, yang pada gilirannya semakin mempertajam visi hidup
yang akan diraih lewat proses pembentukan diri secara terus-menerus. Tujuan
jangka panjang ini merupakan pendekatan dialektis yang semakin mendekatkan
dengan kenyataan yang idea, melalui proses refleksi dan interaksi secara terus
menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil langsung yang dapat
dievaluasi secara objektif. Peningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter mulia siswa
secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan.
Penyaluran
Nilai 4 Pilar Pendidikan Karakter
Penyaluran
nilai empat pilar pendidikan karakter melaui: Pertama sekolah/Madrasah. Sekolah/institusi pendidikan yang mengarah
pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku,
tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikan oleh semua
warga sekolah. Penyaluran pendidikan karakter ini akan berdampak langsung pada siswa.
Sebuah buku yang berjudul Emotional
Intellegence and School Succes (Joseph Zinkdkk., 2001) mengkompilasikan
berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak
terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor
penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan
ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa
percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan
berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Pendidikan karakter
pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak
mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang
dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ada
beberapa strategi yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi guru untuk
memainkan peranannya secara optimal dalam hal pengembangan pendidikan karakter
siswa di sekolah, yaitu : (1) Optimalisasi peran guru dalam proses
pembelajaran, guru tidak seharusnya menempatkan diri sebagai aktor yang dilihat
dan didengar oleh peserta didik, tetapi guru seyogyanya berperan sebagai
sutradara yang mengarahkan, membimbing, memfasilitasi dalam proses
pembelajaran, sehingga peserta didik dapat melakukan dan menemukan sendiri
hasil belajarnya, (2) Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata
pelajaran yang diampunya. Guru dituntut untuk perduli, mau dan mampu mengaitkan
konsep-konsep pendidikan karakter pada materi-materi pembelajaran dalam mata
pelajaran yang diampunya. Dalam hubungannya dengan ini, setiap guru dituntut
untuk terus menambah wawasan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan
karakter, yang dapat diintergrasikan dalam proses pembelajaran, (3) Para guru
(pembina program) melalui program pembiasaan diri lebih mengedepankan atau menekankan
kepada kegiatan-kegiatan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia yang
kontekstual, kegiatan yang menjurus pada pengembangan kemampuan afektif dan
psikomotorik, (4) Penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk tumbuh dan
berkembangnya karakter peserta didik. Lingkungan sekolah terbukti sangat
berperan penting dalam pembentukan pribadi manusia (siswa), baik lingkungan
fisik maupun lingkungan spiritual. Untuk itu sekolah dan guru perlu untuk
menyiapkan fasilitas-fasilitas dan melaksanakan berbagai jenis kegiatan yang
mendukung kegiatan pengembangan pendidikan karakter peserta didik, (5) Menjalin
kerjasama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam pengembangan
pendidikan karakter. Bentu kkerjasama yang bisa dilakukan adalah menempatkan
orang tua peserta didik dan masyarakat sebagai fasilitator dan nara sumber
dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pendidikan karakter yang dilaksanakan di
sekolah. 6) Menjadi figur teladan bagi siswa. Penerimaan siswa terhadap materi
pembelajaran yang diberikan oleh seorang guru, sedikit tidak akan bergantung
kepada penerimaan pribadi siswa tersebut terhadap pribadi seorang guru. Ini
suatu hal yang sangat manusiawi, dimana seseorang akan selalu berusaha untuk
meniru, mencontoh apa yang disenangi dari model/figurnya tersebut. Momen
seperti ini sebenarnya merupakan kesempatan bagi seorang guru, baik secara
langsung maupun tidak langsungmenanamkan nilai-nilai karakter dalam diri
pribadi siswa tersebut. Dalam proses pembelajaran, intergrasi nilai-nilai
karakter tidak hanya dapat diintegrasikan ke dalam subtansi atau materi
pelajaran, tetapi juga pada prosesnya.
Kedua, Penyaluran Pendidikan Karakter di Pergruan
Tinggi . Pendidikan karakter di lingkup satuan pendidikan perguruan tinggi
dilaksanakan melalui tridharma perguruan tinggi, budaya organisasi, kegiatan
kemahasiswaan, dan kegiatan keseharian (Tim Pendidikan Karakter Ditjen Dikti,
20110). Kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi: (a) Setiap darma hendaknya terintegrasi nilai-nilai karakter ke dalam kegiatan pendidikan,
penelitian serta publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat;(b)Budaya
organisasi pembiasaan dalam kepemimpinan dan pengelolaan perguruan tinggi; (c)
Kegiatan kemahassiwaan, pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam kegiatan
kemahasiswaan, antara lain: Pramuka, Olahraga, Karya Tulis, Seni; (d) kegiatan
keseharian, penerapan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
kampus, asrama/kos/keluarga, dan masyarakat. Untuk mewujudkan budaya karakter
mulia perguruan tinggi, diperlukan karakter individu, yang selaras dengan
nilai-nilai, agama, Pancasila,budaya dan tujuan pendidkan nasional. Dalam mewujudkan karakter individu, diperlukan
pengembangan diri secara holistik, yang bersumber pada olah hati, olah pikir,
olah raga, dan olah karsa. Seperti yang telah dikemukakan dari konfigurasi
nilai yang terdapat dalam ranah olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah
rasa/karsa masing-masing diambil satu nilai sebagai nilai-nilai utama karakter
yang dikembangkan secara nasional, termasuk dilingkungan Dikti. Karakter yang
dimaksud adalah: Jujur, Cerdas, Tangguh, Peduli (Jurdastangli).
Ketiga
pendidikan
non formal (masyarakat). Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang
multikultur, meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan di
masyarakat (tokoh masyarakat adat, tokoh agama dan tokoh politik) Keempat,
keluarga, Orientasi pembelajaran karakter ini lebih ditekankan pada
keteladanan dalam nilai pada kehidupan nyata di lingkungan keluarga. Menjalin
kerjasama dengan orang tua siswa sekolah. Bentuk kerjasama yang bisa dilakukan
adalah menempatkan orang tua siswa dan masyarakat sebagai fasilitator dan nara
sumber. Bila penyaluran nilai pilar pendidikan karakter dibangun atas kerja
sama ketiganya akan membentuk cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri
khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, maupun Negara.
Uraian di atas, menggambarkan
bahwa merupakan peranan semua pihak dalam pengembangan pendidikan.
Masing-masing stakeholders diperlukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
yang baik atau merevitalisasi kegiatan-kegiatan di sekolah, keluarga dan di
masyarakat. Keberhasilan dalam membentuk
karakter mulia, tentu berawal dari sikap mau meneriman dari seluruh
stakekholder. Sikap terima, sangat penting sebagai dasar untuk melaksanakan
aktivitas susulan yang lebih tinggi yaitu menjalankan,
menghargai, mengahayati, dan mengamalkan. Sikap tersebut harus dibuktikan
dengan kesiapan menanggung resiko akibat melaksanakan perubahan yang memerlukan
proses pembentukan karakter untuk meningkatkan pengetahuan baru, penguasaan
strategi baru, penguasaan kebiasaan-kebiaasaan baru sehingga memerlukan proses
dan waktu belajar lebih banyak. Kunci
sukses pembentuk karakter mulia memausuki abat ke 21 melaksanakan perubahan
adalah perubahan pola pikir dalam perencanan, kerja dan pola evaluasi diri sebagai
basis penyelenggaraan kegiatan. Perubahan pola pikir direalisasikan dalam
pemenuhan tujuan yang terukur pada tiap indikator dengan target yang paling
tinggi yang mungkin dapat dicapai.
Dengan perubahan demikian,
Fenomena kebebasan bertindak yang tak terkendali makin mewarnai dinarnika
kehidupan hampir diseluruh pelosok tanah ditinggalkan, akan berubah dengan nilai-nilai berkarakter mulia sebagai perekat
persatuan bangsa akan bangkit kembali, kepedulian terhadap sesama latar
belakang sosial budaya akan kelihatan kembali. Sehingga apa yang luapa selama
ini bahwa bangsa Indonesia lahir atas
dasar kesepakatan berbagai nilai, baik yang bersifat sentripetal (pusat) maupun
sentrifugal (daerah) akan tumbuh kembali. Arus Golbalisaisi bukan lagi suatu
hal yang menakutkan tetapi kita telah siap dan mampu untuk bersaing. Apa yang
di rindukan bangsa Indonesia kemapanan karakter yang luhur dalam kesinambungan
pembangunan dari kota sampai ke desa akan terwujud Pemikiran ini bisa
ditindaklanjuti melalui pembangunan kegiatan bersama, dengan harapan yang sama untuk
menemukan kembali nilai-nilai karakter mulia 4 pilar pendidikan karakter di
Indonesia. Sebagai sumber daya untuk menumbuhkan nasionalisme bangsa Indonesia
bagi Nrgara lain, demi jati diri bangsa dan apabila di kembangkan akan
meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Kepentingan rakyat, bangsa dan
negara.
Kesimpulan
Upaya
penyeimbang kompetensi masyarakat Indonesia menghadapi era globalisasi perlunya
reaktualisasi nilai empat pilar pendidikan karater di Indonesia, yaitu agama,
pancasiala, social buadaya dan tujuan pendidikan nasional. Adapun cara agar
nilai empat pilar pendidikan karater itu dapat membentuk karakter mulia, sesuai
harapan bangsa Indonesia yaitu: 1) Agama, pentingnya pendalaman/penguatan
nilai-nilai keagamaan bagi siswa serta melibatkan seluruh stakeholders. 2)
penguatan/pendalaman nilai pendidikan sosial budaya. seperti toleransi, kebersamaan,
kegotong royongan, saling membantu dan mengormati, 3) Penguatan Nilai
Pancasila. Negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip
kehidupan Kebangsaan dan kenegaraan. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan masyarakat Indonesia, 4)
Penguatan tujuan pendidikan nasional,
yaitu: a) Trust worthiness
(Kepercayaan) b) Respect (Respek) Bersikap toleran terhadap perbedaan, c) Responsibility (Tanggungjawab), d) Fairness (Keadilan) e) Caring (peduli) Bersikaplah penuh kasih
sayang.
Penyaluran
nilai empat pilar pendidikan karakter melaui: sekolah/Madrasah,Perguruan
tinggi, masyarakat dan keluarga. Keberhasilan
dalam membentuk karakter mulia, harus berawal dari “sikap mau meneriman” dari
seluruh stakekholder. Sikap terima, sangat penting sebagai dasar untuk
melaksanakan aktivitas susulan yang lebih tinggi yaitu menjalankan, menghargai, mengahayati, dan mengamalkan.
Grand design
pendidikan karakter untuk setiap jalur formal, nonformal, dan informal saling
melengkapi dan memperkaya. Dengan rumusan ini, adanya koherensi rasa saling percaya.
Orientasi-orientasi kegiatan lebih ditekankan pada keteladanan.
............................
DAFTAR
PUSTAKA
Darmiyati Zuchdi. (2009). Pendidikan Karakter. Yogyakarta: UNY Press.
Dwi Siswoyo. (2008). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Emile Durkheim.
(1990).
Pendidikan
Moral
Suatu
Studi
Teori dan Aplikasi
Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga.
Jamal Ma’mur Asmani. (2001). Pendidikan Karakter di sekolah.
Jogjakarta: Diva
Press.
Linda dan Richard Eyre. (1995). Mengajarkan Nilai-Nilai Kepada Anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Maria
J
wantah. (2005). Pengembangan Disiplin
dan
pembentukan Moral.
Jakarta: DEPDIKNAS.
Moch
Shochib. (2000). Pola Asuh Orangtua
untuk
Membantu
Anak
Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta: Rineka Cipta.
Panduan Pelaksanaan kurikurikulum, 2014: 11
Komentar
Posting Komentar